Investor Lepas Saham Perbankan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu, 22-26 Maret 2021, terus tertekan. Dibuka di awal pekan pada angka 6.300an, saat perdagangan hari terakhir pekan lalu ditutup, IHSG tercatat berada di angka 6.100an. Artinya sepanjang minggu IHSG terkontraksi lebih dari 2%.

Sektor yang paling berperan dalam membebani kinerja pasar minggu lalu ditenggarai adalah saham perbankan. Berdasarkan data yang dilansir otoritas bursa, dari 10 penghuni daftar saham dengan kinerja terburuk alias top loosers minggu lalu, separuhnya, atau 5 diantaranya, adalah emiten dari sektor perbankan. Sementara di jajaran 10 emiten dengan kinerja terbaik, tidak ada satupun emiten perbankan terselip.

Top Ganiers

  1. Pollux Investasi Internasional Tbk. 64,50%
  2. Zebra Nusantara Tbk. 63,93%
  3. Asuransi Harta Aman Pratama Tbk. 43,94%
  4. Jaya Trishindo Tbk. 40,11%
  5. KDB Tifa Finance Tbk. 38,62%
  6. Pakuan Tbk. 33,73%
  7. Solusi Tunas Pratama Tbk. 32,35%
  8. Sekar Bumi Tbk. 29,11%
  9. Maha Properti Indonesia Tbk. 28,19%
  10. Graha Layar Prima Tbk. 28,10%

Top Loosers

  1. Planet Poperindo Jaya Tbk. (30,23%)
  2. Bank Bumi Arta Tbk. (29,86%)
  3. Bank Mayapada Internasional Tbk. (29,69%)
  4. Bank Maspion Indonesia Tbk. (29,39%)
  5. Bank IBK Indonesia Tbk. (28,86%)
  6. Keramika Indonesia Assosiasi Tbk. (27,06%)
  7. Indah Prakasa Sentosa Tbk. (24,81%)
  8. Cahaya Bintang Medan Tbk. (23,45%)
  9. Bank Artha Graha Internasional Tbk. (23,14%)
  10. Visi Media Asia Tbk. (23,06%)

Perbankan Didorong Menurunkan Suku Bunga Kredit

Ditenggarai penyebab melemahnya kinerja saham perbankan ini berkaitan dengan meningkatnya tekanan terhadap perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit. Langkah ini dianggap penting untuk menggerakan roda perekonomian yang melambat akibat pandemi Covid-19 yang telah mendera lebih dari setahun terakhir ini.

Dalam acara Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional yang digelar di Semarang baru-baru ini, dua pejabat yang memimpin otoritas tertinggi dalam bidang moneter dan perbankan menyiratkan tekanan yang sama.

“Saya mengucapkan terima kasih karena bank-bank anggota Himpunan Bank-Bank Milik Negara telah mulai menurunkan suku bunga kredit. Bank-bank lain ayo ikut turunkan juga”, ajak Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

“Kami menghimbau perbankan untuk mulai menurunkan suku bunga kredit, karena ruangan untuk itu juga sudah mulai ada. Kalaupun menurunkan suku bunga kredit akan berdampak pada berkurangnya revenue, toh kalau suku bunga turun akan meningkatkan revenue juga”, ungkap Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso.

Apa yang dikemukakan kedua pejabat itu memang benar adanya. Penurunan suku bunga kredit akan memberi pengaruh positif terhadap pemulihan ekonomi nasional. Baik dunia usaha maupun sektor rumah tangga akan terpacu untuk melancarkan ekspansi saat bunga kredit turun. Investasi akan tumbuk sementara konsumsi akan meningkat. Ujung-ujungnya produk domestik bruto akan turut terdongkrak.

Sayangnya di sisi lain turunnya suku bunga berpotensi untuk menggerus laba. Padahal rata-rata net interest margin perbankan di Indonesia tahun 2020 lalu hanya mencapa 4,51%, terendah sejak tahun 2014. Menurunkan bunga kredit akan menekan NIM lebih dalam lagi.

Tapi perbankan tidak mungkin begitu saja mengabaikan himbauan Gubernur BI dan Ketua Dewan Komisioner OJK meskipun berimplikasi langsung pada laba.

Potensi turunnya laba inilah yang direspon investor dengan beramai-ramai melepas saham perbankan.

Published
Categorized as Berita

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *